Tak Ada Pesta di Piala Dunia

“World Cup 2014: Who profits more? FIFA, businessmen, or Brazilian people?”
Soccerstend. Di Brasil, sepak bola berarti kebebasan sementara Piala Dunia sama dengan pesta besar. Tapi di viela, bagian termiskin dari perkampungan kumuh alias favela Vila Kennedy, Rio de Janeiro, aroma pesta itu sama sekali tak tercium. Dari namanya, tak salah jika Anda menebak ada hubungan antara perkampungan itu dan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Setengah abad silam, Presiden Kennedy mencanangkan program Alliance for Progress untuk membantu pembangunan negara-negara Amerika Latin.

Perkampungan Vila Kennedy dibangun Gubernur Carlos Lacerda untuk menampung warga favela do Esqueleto yang tergusur. Dulu perkampungan itu barangkali seperti vila, tapi setengah abad kemudian menjadi favela. Di satu pojok Vila Kennedy, terselip di antara tumpukan sampah yang bertebaran di perkampungan itu, tinggal keluarga Elaine Cristina. “Aku bersyukur karena di tempat sampah bunga juga bisa tumbuh,” kata Elaine, 36 tahun, menghibur diri, dua pekan lalu.

Rumah mereka hanya punya satu kamar, satu kasur, satu sofa, dan satu kamar mandi tanpa pintu. Setiap malam, Elaine, suaminya, dan keenam anak mereka mesti berbagi kasur dan sofa. Empat orang tidur di kasur, dua orang di sofa, dan dua sisanya berjejer di lantai. Tak seperti rumah tetangga yang gelap, rumah Elaine terang-benderang di siang hari, karena tak ada atap yang jadi penghalang. Atap seng gubuk mereka terbang terseret topan beberapa pekan lalu. “Aku bangun dengan matahari di wajahku, jadi lumayan enak,” Elaine bercanda pahit. Suaminya tak punya pekerjaan,sementara si sulung dari enam anaknya bekerja sebagai pencuci mobil.


Perayaan pesta sepak bola Piala Dunia di depan mata, terang bukan untuk keluarga Cristina dan berjuta-juta warga Negeri Samba. Harga tiket domestik pertandingan pembukaan termurah, Brasil melawan Kroasia, 160 real Brasil atau sekitar Rp 850 ribu, jauh di atas kemampuan mereka. Sebab, untuk ongkos makan pokok saja, sering isi kantong Elaine dan suaminya tak mencukupi. “Piala Dunia hanyalah kosmetik,” ujar Joao Costa, pemuda dari favela Bangu.

Menjadi tuan rumah perhelatan besar seperti Piala Dunia mungkin merupakan gengsi, sehingga sejumlah negara memperebutkannya. Walaupun sebenarnya ongkos gengsi menjadi tuan rumah Piala Dunia tak alang-kepalang besarnya. Untuk merenovasi stadion dan pelbagai infrastruktur, pemerintah Brasil harus merogoh anggaran hingga 30 miliar real Brasil atau sekitar Rp 159,5 triliun. “Brasil bukan sekadar negara karnaval, sepak bola, dan perempuan berjoget-joget menari Samba... berjuta-juta orang hidup seperti mereka ini,” kata Pastor Antonio Carlos Costa, 51 tahun, menunjuk warga favela Jacarezinho, satu di antara sejumlah permukiman padat berjejal di Rio de Janeiro. Pastor Antonio merupakan salah satu pemimpin gerakan menentang Piala Dunia di negerinya.

Jajak pendapat oleh Datafolha di 162 kota di Brasil dua bulan lalu menunjukkan hanya 48 persen warga Negeri Samba yang menyokong negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia. Lebih dari 55 persen warga berpendapat mengejar gengsi menjadi tuan rumah perhelatan itu hanya bakal berujung buntung, bukan untung. Roberta dos Santos, 27 tahun, satu di antara yang berpendapat Piala Dunia tak ada manfaatnya bagi rakyat Brasil. “Mereka membelanjakan duit miliaran real, tapi kami tak punya apa-apa di sini,” kata Roberta. Anaknya yang masih kecil meninggal karena tak mendapat perawatan memadai saat sakit. Ibu muda itu bekerja sebagai petugas kebersihan. “Hanya buang-buang duit,” kata seorang pemimpin geng di Jacarezinho.

Setelah menabung beberapa lama, beberapa bulan lalu Pastor Antonio terbang ke markas besar Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di Zurich, Swiss. Di depan gedung tempat bos-bos besar FIFA berkantor, Pastor Antonio menggelar poster bertulisan “World Cup 2014: Who profits more? FIFA, businessmen, or Brazilian people?”.

Tak Ada Pesta di Piala Dunia

Hanya sepekan sebelum pertandingan pertama Piala Dunia tim Samba akan ditantang Kroasia tuan rumah masih bergelut dengan protes dari warganya. Puluhan ribu buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh tanpa Rumah memenuhi jalan-jalan Kota Sao Paulo, Rabu dua pekan lalu.

Mereka menuntut pemerintah Brasil mengalokasikan anggaran lebih besar untuk fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pembangunan perumahan bagi warga berpenghasilan minim. Anggota Kongres Brasil dari Rio de Janeiro, Romario Faria, juga unjuk suara menentang Piala Dunia. “FIFA mendapatkan apa yang mereka mau: uang,” kata mantan bintang tim Samba tersebut. “Jika setelah turnamen pelbagai fasilitas transportasi menghilang? Mereka tak peduli.... Kalian lihat orang-orang sakit bergeletakan di lantai? Kalian lihat anakanak sekolah belajar di ruang tanpa penyejuk udara di tengah panas hingga 45 derajat Celsius?” Menurut mantan striker Barcelona itu, 30 persen anggaran untuk memermak stadion mestinya bisa dipangkas untuk dipakai memperbaiki rupa-rupa fasilitas umum.

Dalam soal warisan Piala Dunia, Brasil bisa menengok pengalaman Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia empat tahun lalu. Hingga hari ini, warga Desa Matsafeni, tak jauh dari stadion megah Mbombela, di Provinsi Mpumalanga,  masih kesulitan mendapatkan air. “Mereka berbohong dan mengkhianati kami,” kata Imaan Milanzi, warga Desa Matsafeni, beberapa pekan lalu. Fasilitas air bersih yang dijanjikan pemerintah Afrika Selatan saat mempersiapkan infrastruktur Piala Dunia 2010 tak pernah datang. “Awalnya mereka menjanjikan fasilitas air bersih, memperbaiki jalan dan perumahan. Tapi, setelah stadion dibangun, mereka menghilang,” Imaan menggerundel.

Stadion-stadion megah warisan Piala Dunia sebagian besar nasibnya juga mengenaskan. Dari 42 ribu bangku di Stadion Nelson Mandela Bay di Port Elizabeth, rata-rata hanya terisi kurang dari 10 ribu penonton setiap menggelar acara. Menurut Dale McKinley, peneliti independen di Johannesburg, dari delapan stadion yang direnovasi atau dibangun, hanya satu stadion, yakni Stadion FNB di Nasrec, yang secara keuangan bisa mandiri. Penyanyi Lady Gaga dan grup musik U2 pernah manggung di Soccer City, sebutan populer Stadion FNB.

Yang jadi “tumbal” bagi proyek Piala Dunia Brasil justru Presiden Dilma Rousseff sendiri. Popularitasnya terus tergerus oleh sentimen anti-Piala Dunia. Menurut hasil survei IBOPE yang dilansir Selasa pekan lalu, dukungan kepada Presiden Dilma tinggal 38 persen, turun dari 40 persen setahun lalu. Namun Presiden Dilma berkukuh bahwa proyek Piala Dunia bakal memberikan manfaat jangka panjang bagi negerinya. “Kami mengerjakan ini, di atas semuanya, untuk rakyat Brasil,” kata Presiden Dilma. Sumber■ SAPTO PRADI TYO | CNN | BBC | REUTERS | FT

0 Response to "Tak Ada Pesta di Piala Dunia"

Posting Komentar