Siapa tak kenal Ian James Rush? Pada 1980-an, Rush merupakan salah satu striker paling dahsyat di Liga Inggris. Sampai detik ini, pemain asal Wales itu masih menjadi penyerang paling subur Liverpool. Maka, bukan basa-basi jika Ian Rush memberikan pujian.
“Apa yang Suarez capai sulit dipercaya. Menurutku, dia pemain terbaik dunia saat ini,” kata Rush, dua pekan lalu. “Orang-orang membicarakan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, tapi dia tak bermain reguler saat ini karena cedera. Suarez terus bermain, dan dia bertarung di liga paling keras di dunia.”
Di Liga Spanyol, perburuan titel nomor satu hanya terjadi antara Real Madrid, Barcelona, dan mungkin Atletico Madrid. Tapi, di Liga Primer Inggris, gelar juara diperebutkan paling tidak oleh delapan klub papan atas. “Bermain konsisten di Liga Primer, liga paling sulit di dunia, itu baru benar-benar spesial,” kata Ian Rush, kini 52 tahun. Menurut sang legenda, musim ini penampilan Suarez bukan cuma semakin tajam dia mencetak 21 gol dari 15 pertandingan. “Dia telah mencapai level lebih tinggi lagi.”
Pada musim lalu, selain Suarez, masih ada Gareth Bale yang juga mengkilap di Liga Inggris. Tapi, musim ini, panggung Liga Inggris menjadi milik Suarez, bahkan saat dia tak mencetak gol sekalipun, seperti ketika Liverpool ditaklukkan Chelsea, 2-1, dua pekan lalu. “Ulah” Suarez dalam laga di kandang Chelsea, Stamford Bridge, itu menjadi bahan sindiran Jose Mourinho. Manajer Chelsea itu, "The Special One", menuduh reaksi Suarez saat berbenturan dengan penyerang The Blues, Samuel Eto'o, benar-benar kelewatan. “Dia seperti berakrobat, bak melompat di kolam renang, demi untuk mendapatkan penalti.
Dia pintar, dia tahu berada di zona penalti di depan pendukung Liverpool,” Mourinho mengkritik. “Aku benci pemain yang memprovokasi situasi... dia kalah berebut bola dengan Cesar Azpilicueta, Eto'o datang dan tiba-tiba dia seperti ada yang menembak dari belakang.” Padahal Suarez tak perlu melakukan “akrobat” seperti itu. “Aku suka kualitasnya, komitmennya, dan ambisi dia saat bermain,” kata Mourinho. “Aku tahu dia sejak masih di Ajax. Dia bersedia melakukan semuanya untuk menang. Brendan Rodgers sudah melakukan pekerjaan bagus dengannya, sebab Suarez telah berubah. Tak ragu lagi, dia telah berubah.”
Lahir di Salto, kota di perbatasan Uruguay dengan Argentina, Luis Alberto Suarez Diaz tumbuh besar di Montevideo, ibu kota negara. Perceraian kedua orang tuanya, saat Suarez baru berumur 9 tahun, meninggalkan luka yang dalam. Barangkali, perceraian itulah yang menjadi awal “pemberontakan”, sumber keberandalan Suarez. “Aku tak pernah bisa bercerita kepada ayahku atau ibuku... aku tak bisa mengatakan aku ingin sepatu ini atau minta mereka membelikan sepatu itu,” Suarez mengenang masa kecilnya. Apalagi, dia berasal dari keluarga berpenghasilan pas-pasan dengan tujuh bersaudara. Ayahnya, Rodolfo, bekerja sebagai buruh di pabrik biskuit El Trigal, sementara ibunya menjadi tenaga kebersihan di terminal bus Tres Cruces, Montevideo.
Masa-masa sulit itu nyaris menenggelamkannya. Dia ogah bersekolah, juga tak serius bermain sepak bola. “Aku hanya ingin bermain-main, tak peduli dengan apa yang akan aku capai.... Aku sangat marah,” katanya. Gara-gara kelakuan buruknya ini, Suarez hampir saja didepak dari tim junior Nacional, klub sepak bola terbesar di Uruguay. Dia sudah masuk daftar pemain junior yang bakal dilepas Nacional. “Beri dia kesempatan lagi,” kata Wilson Perez, pencari bakat Nacional, kepada Daniel Enriquez, pelatih tim junior Nacional. “Ini menjadi kesempatan terakhir buatmu. Jangan bikin malu aku. Jika kamu ingin terus bermain sepak bola, kamu harus mengambil tanggung jawab ini,” Wilson Perez memperingatkan Suarez.
Suarez, yang kala itu baru berumur 14 tahun, mulai terbuka matanya. “Aku harus memikirkan keluargaku, saudara-saudaraku karena, jika aku bisa melangkah lebih jauh, aku akan bisa membantu keluargaku,” kata Suarez. Sejak saat itu, bukan cuma semakin rajin berlatih dan sekolah, tapi Suarez juga haus gol. Dia bahkan hampir memecahkan rekor tim junior Nacional.
Pada tahun itu, dia mencetak 63 gol, hanya selisih satu gol dari rekor. Namun, seperti kata Jose Mourinho, terkadang semangat bertarung Suarez yang kelewatan membuat dia lepas kendali. Sisa-sisa pemberontakan masa remajanya tak benar-benar luntur. Tiga tahun lalu, Suarez, yang bermain untuk Ajax Amsterdam, tertangkap kamera tengah menggigit pundak gelandang PSV Eindhoven, Otman Bakkal. Adegan “ajaib” itu luput dari pengamatan wasit dan Suarez sempat lolos dari hukuman wasit. Tapi video itu tak bisa bohong. Belakangan Federasi Sepak Bola Belanda menjatuhkan skorsing tujuh pertandingan kepada Suarez. Gara-gara adegan itu, harian De Telegraaf memberinya julukan "Cannibal of Ajax", menyamakannya dengan petinju kelas berat Mike Tyson, yang menggigit telinga Evander Holyfield hingga robek.
Entah apa yang ada dalam kepalanya, Suarez kembali mengulang ulah ganjilnya itu pada April 2013. Korban gigitannya kali ini adalah Branislav Ivanovic, bek Chelsea. “Aku minta maaf kepada Ivanovic dan kepada dunia sepak bola,” Suarez menulis di akun Twitternya. Bahkan, Otman Bakkal, korban gigitan pertama Suarez, pun tak habis pikir kejadian aneh itu terulang kembali. “Kejadian ini benar-benar tak terbayangkan muncul di lapangan....Itu sudah terjadi sekali, dan sekarang terjadi lagi. Aku tak tahu harus mengatakan apa,” kata Bakkal. “Kadang aku pikir dia benar-benar ingin menang sehingga sampai kehilangan nalar.” Luis Suarez barangkali punya sederet “dosa” di lapangan.
Tapi statistiknya saat bermain di Groningen, Ajax, dan Liverpool berbicara soal kualitasnya. Di Dutch Eredivisie, dia menjadi penyerang paling subur. Sekarang, demikian pula di Liga Inggris. Tak terbantahkan lagi, Suarez merupakan satu dari segelintir striker paling diburu saat ini. Nilainya tak kalah dari Radamel Falcao, Wayne Rooney, Robin van Persie, bahkan Cristiano Ronaldo dan Messi sekalipun. “Semua orang menyukai dia, tapi dia tak available,” Jose Mourinho menjelaskan mengapa dia tak berusaha mengejar tanda tangan Suarez.


0 Response to "Suarez ON FIRE"
Posting Komentar