Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Berikut adalah atraksi kiper-kiper handal selama perhelatan Piala Dunia 2014 Brasil.

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Kiper Spanyol Iker Casillas menutup mukanya sesaat setelah striker Belanda Robin van Persie
(kiri) menjebol gawangnya pada pertandingan di Group B yang berlangsung di Stadion Fonte
Nova Arena, Salvador, Brasil. Spanyol kalah telak 1-5 pada laga Sabtu (14/6) WIB itu.

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Kiper Joe Hart (kiri) membantu bek Inggris Gary Cahill yang mengalami kram saat tim Inggris melawan Italia pada pertandingan Grup D Piala Dunia 2014 di Stadion Amazonia
Arena, Manaus, Brasil, Minggu (15/6) WIB.

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Kiper Amerika Tim Howard gagal mengadang bola sepakan gelandang Ghana Andre Ayew, pada pertandingan di Group G, Selasa (17/6) WIB

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Kiper Swiss Diego Benaglio terduduk saat tim lawan, Ekuador, 
menjebol gawangnya, Minggu (15/6) WIB.

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Gelandang Bosnia-Herzegovina Izet Hajrovic berebut bola dengan
kiper Argentina Sergio Romero dalam pertandingan Group F Piala
Dunia di Stadion Maracana, Rio De Janeiro, Minggu (15/6)

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Kiper Nigeria Vincent Enyeama (atas) berhasil menangkap bola sebelum pemain Iran Ashkan Dejagah (tengah, putih) menyundulnya pada pertandingan di Stadion Arena da Baixada, Curitiba, 
Brasil, Selasa (17/6)

Atraksi kiper selama Piala Dunia 2014 Brasil

Bola sepakan pemain Bosnia-Herzegovina, Vedad Ibisevic (kiri), melewati kiper Argentina Sergio
Romero hingga membuahkan gol pada pertandingan di group F Piala Dunia 2014 di Stadion
Maracana, Rio de Janeiro, Brasil, Senin (15/6)


Vicente del Bosque: Ini bukan kesalahan satu orang

Pelatih tim nasional Spanyol, Vicente Del Bosque, beberapa detik sebelum peluit akhir laga Spanyol-Belanda, tertangkap kamera mengusap satu per satu kepala pemainnya yang duduk di bangku cadangan. Mereka yang ada di sana antara lain Xabi Alonso, David Silva, dan Diego Costa, tiga pemain yang keluar lapangan karena diganti.

Usapan pelatih itu seperti bapak mengusap kepala anaknya. Sang bapak tampak menyerah dan memberikan penghiburan kepada anak-anaknya. Apa yang terlihat di kamera tampaknya memang ada di hati Del Bosque.

Ia tampak tenang meski tetap terlihat sedih. Del Bosque enggan menyalahkan para pemainnya, termasuk kiper Iker Casillas. Casillas memberikan satu blunder yang membuahkan ke-4 Belanda melalui sepakan Robin van Persie pada menit ke-72. “Saya kehabisan katakata untuk menjelaskannya. Tapi, saya tidak mau menunjuk seseorang.Kekalahan ini tidak datang karena (kesalahan) satu orang. Saya tidak ingin menunjuk Iker Casillas (kiper Spanyol) atau siapa pun,” ujarnya.

Vicente del Bosque: Ini bukan kesalahan satu orang

Penampilan Casillas menjadi sorotan pada laga yang disaksikan sekitar 48.000 pentonton itu menyusul blunder-nya saat terjadi gol ketiga yang dilesakkan striker Belanda Arjen Robben. Kiper Real Madrid itu pun mengakui dirinya tampil buruk. “Saya tidak melakukan hal yang seharusnya saya lakukan, terutama untuk memulai Piala Dunia. Ini bukan laga terbaik saya dan saya tidak berada di level yang diperlukan. Saya terima semua kritikan itu,” tandasnya.

Kemenangan 5-1 yang ditorehkan Belanda atas Spanyol dalam laga pembuka Grup B Piala Dunia 2014, Sabtu (14/6) dini hari WIB, mencuatkan nama Robin van Persie. Striker “De Oranje” itu tampil memikat dengan membuat dua gol. Satu di antaranya dibuat dengan sangat brilian yakni terbang menyambut umpan panjang Daley Blind dari jarak sekitar 35 meter dari gawang lawan dan menceploskan ke gawang yang berjarak sekitar 17,8 meter dari tempatnya melayang. Van Persie total bermain selama 72 menit total melepaskan empat tendangan dengan tiga di antaranya mengarah ke gawang dan dua berbuah gol. Bahkan, satu golnya melalui sundulan tercatat sebagai gol tandukan terjauh di Piala Dunia sejak data dihimpun pada 1970.

Atas penampilannya itu, penyerang yang merumput bersama Manchester United (MU) itu pun dinobatkan sebagai pemain terbaik versi FIFA. Meskipun Arjen Robben juga mencetak dua gol, peran Van Persie dinilai lebih besar untuk membawa kemenangan timnya. Pemain 30 tahun itu sejatinya mengalami musim yang kurang menyenangkan bersama MU pada musim lalu. Di Liga Utama Inggris, ia hanya tampil sebanyak 21 kali dengan torehan 12 gol. Hal itu disebabkan cedera yang memaksanya harus menepi untuk kurun waktu beberapa pekan. Di Piala Dunia 2014, pemain kelahiran Rotterdam itu bertekad untuk membawa Belanda menjadi kampiun.

Timnas Belanda semakin perkasa

Timnas Belanda tampil memukau dengan melumat juara bertahan Spanyol 5-1 dalam laga perdana Grup B Piala Dunia 2014 di Arena Fonte Nova, Salvador, Brasil, Sabtu (14/6) dini hari WIB.

Kemenangan itu menuntaskan dendam Belanda setelah secara dramatis dikandaskan Spanyol 0-1 pada perpanjangan waktu di partai final Piala Dunia 2010. Hasil tersebut sekaligus menjadi catatan terburuk Spanyol selama berlaga di ajang internasional setelah dikalahkan Skotlandia 2-6 pada 1963. Kekalahan terbesar tim Matador di ajang Piala Dunia terjadi pada 1950 saat dikandaskan tuan rumah Brasil dengan skor 1-6.

Spanyol sejatinya memulai laga dengan baik. Lapangan tengah sepertinya bakal dikuasi pasukan La Furia Roja, julukan Spanyol. Taka-tiki membuat penguasaan bola didominasi anak asuh Vicente del Bosque ini. Juara Dunia 2010 itu akhirnya memimpin lebih dulu meski bukan dengan gol yang spektakuler.

Ketika laga memasuki menit ke-27, Diego Costa dilanggar di kotak terlarang. Xabi Alonso yang maju sebagai algojo sukses menjalankan tugasnya dengan baik setelah sepakan keras mendatarnya ke pojok kanan bawah tidak bisa dihentikan kiper Belanda Jasper Cilessen.

Timnas Belanda semakin perkasa

Sepanjang babak pertama permainan dari kaki ke kaki tak memberikan banyak peluang bagi Spanyol. Sebaliknya, serangan balik tim Orange di akhir babak pertama malah membuahkan hasil. Gol yang sangat cantik. Berawal dari sayap kiri, Daley Blind memberikan umpan panjang ke kotak penalti. Striker yang bermain untuk Manchester United, Robin van Persie, berlari kencang dan terbang menyambut umpan itu dan menjadikannya gol.

Bek Sergio Ramos dan Gerard Pique gagal mengawal van Persie. Sementara Iker Casillas, kiper juara Piala Champions Real Madrid, nyaris tak bergerak dan hanya menyaksikan bola masuk ke gawangnya. Gol sundulan striker Manchester United itu tercipta dari jarak 17,5 meter dan tercatat sebagai gol tandukan terpanjang di Piala Dunia sejak data dihimpun pada 1970.

Gol semenit sebelum turun minum ini ternyata pembuka untuk empat gol lainnya. Van Persie juga menjadi pemain pertama Belanda yang mampu mencetak gol dalam tiga edisi Piala Dunia berbeda. Sukses membuat skor sama kuat di babak pertama, “De Oranje” mengamuk begitu interval kedua dimulai. Robben membawa Belanda berbalik unggul pada menit ke-53. Pemain yang merumput bersama Bayern Muenchen itu mengontrol umpan silang Blind dengan baik sebelum memperdaya dua bek Spanyol. Tinggal berhadapan dengan Casillas, ia pun dengan mudah menceploskan bola ke gawang lawan.

Momentum
Gol tersebut rupanya menjadi momentum bagi Belanda untuk semakin mengeksploitasi pertahanan Spanyol. Sebelas menit dari gol kedua, Stefan de Vrij memperlebar keunggulan Belanda memanfaatkan tendangan bebas Wesley Sneijder. Casillas kali ini gagal menjangkau bola karena kalah duel dengan van Persie. Bola yang menuju tiang jauh ditanduk de Vrij. Gol keempat Belanda lahir karena blunder Casillas pada menit ke-72. Menerima back pass di dalam kotak penalti, kapten tim ini gagal mengontrol bola. Van Persie berhasil mencuri bola dan tanpa kesalahan, man of the match versi FIFA ini melesakkan si kulit bundar ke gawang yang sudah kosong. Tim “Kincir Angin” menutup pesta gol mereka pada sepuluh menit jelang waktu normal tuntas. Menerima umpan terobosan, Robben menggiring bola hingga ke kotak penalti. Pemain yang membawa Muenchen juara Liga Champions musim 2012/13 itu kembali mengecoh Casillas dengan gocekan mautnya sebelum melepaskan tembakan yang juga gagal dihalau bek Spanyol.

Kemenangan Belanda tak lepas dari jitu pelatih Louis van Gaal. Ia menempatkan lima pemain di belakang guna meredam serangan lawan. Sementara di pihak lawan, pelatih del Bosque tampak yakin dengan penyerang tunggalnya, Diego Costa yang dalam pertandingan itu tak mampu berbuat banyak. Striker yang membela klub Atletico Madrid ini bahkan mendapatkan cemoohan penonton manakala memegang bola. Pada babak kedua, lini tengah Spanyol sebagai jantung permainan tampak kedodoran. Permainan tiki-taka sama sekali tidak mengalir membuahkan gol karena lapangan tengah masih mengandalkan pemain tua yang tidak lagi gesit memerankan gaya permainan yang sangat membutuhkan kecepatan.

Mereka banyak kehilangan bola yang oleh Snaijder Cs bola kemudian diumpan panjang ke kotak penalti Spanyol. Hal ini disadari del Bosque yang padsa menit ke-62 memasukkan Pedro menggant ikan Alonso. Fernando Torres juga dimasukkan menggantikan Diego Costa guna menambah daya dobrak. Sayang, pergantian itu tak mempercantik irama permainan di lini tengah. Buktinya tiga gol kembali bersarang di gawang Iker. Masuknya Cesc Fabregas menggantikan David Silva tak banyak membantu. Selain lapangan tengah yang ‘terengah-engah’, lini belakang Spanyol juga sangat rapuh sepeninggal Charles Puyol, kapten timnas yang pensiun tahun ini. Gerard Pique dan Sergio Ramos selalu terlambat menutup celah pergerakan penyerang Belanda.

Berdasarkan data statistik Soccer Power Index (SPI), sebelum pertandingan kans Spanyol untuk bisa melaju ke babak knock-out sebesar 78,6%. Namun, kans turun hingga 34,4% setelah k e k a lahantersebut . Sebaliknya, kesempatan bagi Belanda untuk bisa melaju ke fase selanjutnya meningkat menjadi 90,6% menyusul kemenangan dari sebelumnya hanya 44,2%. Kekalahan kali ini bagi Spanyol bukan yang pertama. Sejatinya tim yang kini menempati peringkat 1 FIFA ini sempat mengalami kekalahan di laga pembuka Piala Dunia 2010. Ketika itu, mereka dikandaskan Swiss 0-1, tetapi mampu bangkit dan mengemas kemenangan pada dua laga berikutnya untuk mendapat satu tiket ke babak 16 besar. La Furia Roja wajib menang atas Cile di Maracana pada 18 Juni mendatang

Tak Ada Pesta di Piala Dunia

“World Cup 2014: Who profits more? FIFA, businessmen, or Brazilian people?”
Soccerstend. Di Brasil, sepak bola berarti kebebasan sementara Piala Dunia sama dengan pesta besar. Tapi di viela, bagian termiskin dari perkampungan kumuh alias favela Vila Kennedy, Rio de Janeiro, aroma pesta itu sama sekali tak tercium. Dari namanya, tak salah jika Anda menebak ada hubungan antara perkampungan itu dan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Setengah abad silam, Presiden Kennedy mencanangkan program Alliance for Progress untuk membantu pembangunan negara-negara Amerika Latin.

Perkampungan Vila Kennedy dibangun Gubernur Carlos Lacerda untuk menampung warga favela do Esqueleto yang tergusur. Dulu perkampungan itu barangkali seperti vila, tapi setengah abad kemudian menjadi favela. Di satu pojok Vila Kennedy, terselip di antara tumpukan sampah yang bertebaran di perkampungan itu, tinggal keluarga Elaine Cristina. “Aku bersyukur karena di tempat sampah bunga juga bisa tumbuh,” kata Elaine, 36 tahun, menghibur diri, dua pekan lalu.

Rumah mereka hanya punya satu kamar, satu kasur, satu sofa, dan satu kamar mandi tanpa pintu. Setiap malam, Elaine, suaminya, dan keenam anak mereka mesti berbagi kasur dan sofa. Empat orang tidur di kasur, dua orang di sofa, dan dua sisanya berjejer di lantai. Tak seperti rumah tetangga yang gelap, rumah Elaine terang-benderang di siang hari, karena tak ada atap yang jadi penghalang. Atap seng gubuk mereka terbang terseret topan beberapa pekan lalu. “Aku bangun dengan matahari di wajahku, jadi lumayan enak,” Elaine bercanda pahit. Suaminya tak punya pekerjaan,sementara si sulung dari enam anaknya bekerja sebagai pencuci mobil.


Perayaan pesta sepak bola Piala Dunia di depan mata, terang bukan untuk keluarga Cristina dan berjuta-juta warga Negeri Samba. Harga tiket domestik pertandingan pembukaan termurah, Brasil melawan Kroasia, 160 real Brasil atau sekitar Rp 850 ribu, jauh di atas kemampuan mereka. Sebab, untuk ongkos makan pokok saja, sering isi kantong Elaine dan suaminya tak mencukupi. “Piala Dunia hanyalah kosmetik,” ujar Joao Costa, pemuda dari favela Bangu.

Menjadi tuan rumah perhelatan besar seperti Piala Dunia mungkin merupakan gengsi, sehingga sejumlah negara memperebutkannya. Walaupun sebenarnya ongkos gengsi menjadi tuan rumah Piala Dunia tak alang-kepalang besarnya. Untuk merenovasi stadion dan pelbagai infrastruktur, pemerintah Brasil harus merogoh anggaran hingga 30 miliar real Brasil atau sekitar Rp 159,5 triliun. “Brasil bukan sekadar negara karnaval, sepak bola, dan perempuan berjoget-joget menari Samba... berjuta-juta orang hidup seperti mereka ini,” kata Pastor Antonio Carlos Costa, 51 tahun, menunjuk warga favela Jacarezinho, satu di antara sejumlah permukiman padat berjejal di Rio de Janeiro. Pastor Antonio merupakan salah satu pemimpin gerakan menentang Piala Dunia di negerinya.

Jajak pendapat oleh Datafolha di 162 kota di Brasil dua bulan lalu menunjukkan hanya 48 persen warga Negeri Samba yang menyokong negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia. Lebih dari 55 persen warga berpendapat mengejar gengsi menjadi tuan rumah perhelatan itu hanya bakal berujung buntung, bukan untung. Roberta dos Santos, 27 tahun, satu di antara yang berpendapat Piala Dunia tak ada manfaatnya bagi rakyat Brasil. “Mereka membelanjakan duit miliaran real, tapi kami tak punya apa-apa di sini,” kata Roberta. Anaknya yang masih kecil meninggal karena tak mendapat perawatan memadai saat sakit. Ibu muda itu bekerja sebagai petugas kebersihan. “Hanya buang-buang duit,” kata seorang pemimpin geng di Jacarezinho.

Setelah menabung beberapa lama, beberapa bulan lalu Pastor Antonio terbang ke markas besar Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di Zurich, Swiss. Di depan gedung tempat bos-bos besar FIFA berkantor, Pastor Antonio menggelar poster bertulisan “World Cup 2014: Who profits more? FIFA, businessmen, or Brazilian people?”.

Tak Ada Pesta di Piala Dunia

Hanya sepekan sebelum pertandingan pertama Piala Dunia tim Samba akan ditantang Kroasia tuan rumah masih bergelut dengan protes dari warganya. Puluhan ribu buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh tanpa Rumah memenuhi jalan-jalan Kota Sao Paulo, Rabu dua pekan lalu.

Mereka menuntut pemerintah Brasil mengalokasikan anggaran lebih besar untuk fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pembangunan perumahan bagi warga berpenghasilan minim. Anggota Kongres Brasil dari Rio de Janeiro, Romario Faria, juga unjuk suara menentang Piala Dunia. “FIFA mendapatkan apa yang mereka mau: uang,” kata mantan bintang tim Samba tersebut. “Jika setelah turnamen pelbagai fasilitas transportasi menghilang? Mereka tak peduli.... Kalian lihat orang-orang sakit bergeletakan di lantai? Kalian lihat anakanak sekolah belajar di ruang tanpa penyejuk udara di tengah panas hingga 45 derajat Celsius?” Menurut mantan striker Barcelona itu, 30 persen anggaran untuk memermak stadion mestinya bisa dipangkas untuk dipakai memperbaiki rupa-rupa fasilitas umum.

Dalam soal warisan Piala Dunia, Brasil bisa menengok pengalaman Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia empat tahun lalu. Hingga hari ini, warga Desa Matsafeni, tak jauh dari stadion megah Mbombela, di Provinsi Mpumalanga,  masih kesulitan mendapatkan air. “Mereka berbohong dan mengkhianati kami,” kata Imaan Milanzi, warga Desa Matsafeni, beberapa pekan lalu. Fasilitas air bersih yang dijanjikan pemerintah Afrika Selatan saat mempersiapkan infrastruktur Piala Dunia 2010 tak pernah datang. “Awalnya mereka menjanjikan fasilitas air bersih, memperbaiki jalan dan perumahan. Tapi, setelah stadion dibangun, mereka menghilang,” Imaan menggerundel.

Stadion-stadion megah warisan Piala Dunia sebagian besar nasibnya juga mengenaskan. Dari 42 ribu bangku di Stadion Nelson Mandela Bay di Port Elizabeth, rata-rata hanya terisi kurang dari 10 ribu penonton setiap menggelar acara. Menurut Dale McKinley, peneliti independen di Johannesburg, dari delapan stadion yang direnovasi atau dibangun, hanya satu stadion, yakni Stadion FNB di Nasrec, yang secara keuangan bisa mandiri. Penyanyi Lady Gaga dan grup musik U2 pernah manggung di Soccer City, sebutan populer Stadion FNB.

Yang jadi “tumbal” bagi proyek Piala Dunia Brasil justru Presiden Dilma Rousseff sendiri. Popularitasnya terus tergerus oleh sentimen anti-Piala Dunia. Menurut hasil survei IBOPE yang dilansir Selasa pekan lalu, dukungan kepada Presiden Dilma tinggal 38 persen, turun dari 40 persen setahun lalu. Namun Presiden Dilma berkukuh bahwa proyek Piala Dunia bakal memberikan manfaat jangka panjang bagi negerinya. “Kami mengerjakan ini, di atas semuanya, untuk rakyat Brasil,” kata Presiden Dilma. Sumber■ SAPTO PRADI TYO | CNN | BBC | REUTERS | FT

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibukaUpacara pembukaan di stadion Arena Corinthians, Sao Paulo, telah digelar dengan aman dan tentunya dengan semarak.

Selain hiburan dari tarian dan musik tradisional dari Brasil, hadir pula Jennifer Lopez, Pitbull dan Claudia Leitte di tengah lapangan untuk menyanyikan lagu 'We Are One' yang menjadi lagu resmi Piala Dunia tahun 2014 ini.

Anda kehilangan momentum menyaksikan upacara pembukaan atau ingin melihat kembali semaraknya upacara pembukaan tersebut? Berikut Galeri Foto Upacara Pembukaan Piala Dunia 2014 yang dikutif  soccerstend dari Goal Indonesia:

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka


Pada pertandingan perdana tadi malam Piala Dunia 2014 ada ulah wasit yang bikin lucu, apa itu? Selain kontroversi soal hadiah penalti untuk Brasil, ada yang hal menarik dari laga perdana Piala Dunia 2014 tersebut. Saat terjadi pelanggaran di luar kotak penalti, wasit terlihat menyemprotkan cat berwarna putih ke atas rumput. Untuk apakah itu?

Piala Dunia 2014 telah resmi dibuka

Cat semprot tersebut ternyata digunakan untuk membuat garis batas saat tendangan bebas diberikan di sekitar kotak terlarang. Pemain bertahan lawan harus berdiri di belakang garis yang telah dibuat oleh wasit.

Dikutip dari situs resmi FIFA, cat semprot sebagai penanda tendangan bebas untuk kali pertama digunakan di Piala Dunia 2014 pada pertandingan Brasil melawan Kroasia, Jumat (13/6/2014) dini hari.

Cat yang mudah hilang ini kali pertama digunakan wasit asal Jepang, Yuichi Nishimura, saat Kroasia mendapat tendangan bebas pada babak pertama.

Wasit terbaik Asia tahun 2012 itu membuat lingkaran di sekeliling bola dengan semprotan tersebut dan kemudian membuat garis batas berjarak sekitar 9 meter dari bola. Garis batas tersebut menandai posisi di mana tembok pertahanan lawan berdiri.

Cat berbahan aerosol yang disemprotkan ke rumput tersebut akan hilang dalam waktu satu menit.
Sistem ini sebenarnya telah digunakan dalam liga Brasil dan Argentina selama beberapa musim, dan juga diuji coba pada Piala Dunia U-20 tahun lalu. Cat semprot ini rencananya akan digunakan pada Liga Champion Eropa musim depan.

Neymar bersinar, Marcelo cetak rekor

Soccerstend. Neymar mencetak dua gol yang ikut menentukan keberhasilan Brasil menang 3-1 atas Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2014 di Arena Corinthians, Sao Paulo, Kamis atau Jumat (13/6/2014) WIB. 

Kroasia membuka peluang lebih dahulu pada menit ke-7. Berawal dari umpan silang Ivan Perisic, bola mengarah kepada Ivica Olic yang berada di tiang jauh. Olic lantas melepaskan sundulan yang hanya menyamping tipis dari gawang Brasil.

Meski lebih banyak bermain menunggu, Kroasia rupanya memiliki serangan balik yang ampuh. Pada menit ke-11, publik Brasil dibuat terdiam lewat gol pembuka Kroasia yang dicetak justru oleh gol bunuh diri bek Brasil, Marcelo.

Gol berawal dari pergerakan Ivica Olic di sektor kanan pertahanan Brasil yang berujung umpan ke tengah kotak penalti. Nikica Jelavic kemudian meneruskan bola ke arah Ivan Perisic di tengah gawang.

Neymar bersinar, Marcelo cetak rekor

Perisic tidak menjangkau bola sehingga bola terus bergulir ke arah Marcelo. Marcelo yang tidak siap mengantisipasi bola tak bisa berbuat apa-apa ketika bola mengenai dirinya dan kemudian melesat ke dalam gawang Julio Cesar.

Momen tersebut sekaligus membuat dua sejarah baru dalam Piala Dunia. Untuk kali pertama, gol pembuka Piala Dunia tercipta melalui gol bunuh diri. Selain itu, Marcelo juga tercatat sebagai satu-satunya pemain Brasil yang melakukan gol bunuh diri dari 98 pertandingan resmi Selecao selama Piala Dunia.

Tertinggal 0-1 dari Kroasia, Brasil mencoba bangkit. Serangan bertubi-tubi dilancarkan Neymar dkk ke daerah pertahanan Kroasia. Peluang menyamakan kedudukan tercipta pada menit ke-21. Namun, sepakan kaki kanan Paulinho masih bisa ditepis kiper Kroasia, Stipe Pletikosa.

Semenit berselang, Brasil kembali membuat kesempatan. Berawal dari aksi individu Neymar di sisi kiri pertahanan Kroasia, Neymar memberikan umpan silang yang masih bisa dibuang Vedran Corluka. Bola sapuan itu ternyata bergulir liar dan mengarah ke Oscar yang berada sedikit di luar kotak penalti. Tanpa ragu, Oscar melepaskan tendangan keras kaki kiri yang ternyata bisa diselamatkan Pletikosa.

Upaya keras Brasil akhirnya berbuah hasil. Pada menit ke-29, Selecao berhasil menyamakan skor menjadi 1-1 melalui gol Neymar. Tendangan mendatar Neymar dari luar kotak penalti gagal dihentikan Pletikosa. Bola sempat membentur tiang sebelum masuk ke gawang Kroasia.

Pada awal babak kedua, Brasil dan Kroasia belum melakukan pergantian pemain. Pertandingan pun masih tetap dikuasai Brasil.

Perubahan susunan pemain pertama baru dilakukan Kroasia pada menit ke-61. Pemain muda, Mateo Kovacic, ditarik keluar untuk digantikan Marcelo Brozovic. Brasil juga melakukan pergantian pemain dua menit berselang, saat Paulinho digantikan Hernanes.

Memasuki menit ke-67, Brasil mempunyai kesempatan berbalik unggul. Mendapatkan tendangan bebas dari jarak yang cukup ideal, Dani Alves mengambil tugas tersebut. Akan tetapi, sepakan Alves masih melambung tipis dari gawang Kroasia.

Pelatih Brasil, Luis Felipe Scolari, kembali melakukan pergantian pemain. Hulk yang tampil kurang baik harus ditarik keluar untuk digantikan Bernard.

Brasil pun akhirnya mampu berbalik unggul 2-1 pada menit ke-71. Pelanggaran Dejan Lovren terhadap Fred di dalam kotak penalti memaksa wasit Jepang, Yuichi Nishimura, menunjuk titik putih untuk Brasil. Neymar yang menjadi algojo sukses menjalankan tugasnya dengan baik, meski Pletikosa sempat menebak benar arah tembakan Neymar.

Pada menit ke-83, Kroasia sebenarnya mampu mencetak gol ke gawang Brasil melalui Ivan Perisic. Namun, sebelum Perisic menendang bola, wasit menganggap Olic telah lebih dahulu melanggar Julio Cesar yang coba mengamankan bola udara.

Dua menit jelang waktu normal berakhir, Neymar ditarik keluar dalam pertandingan tersebut. Scolari memutuskan untuk memasukkan gelandang Ramires untuk menguatkan lini tengah Brasil.

Setelah keluarnya Neymar, Kroasia justru menciptakan peluang menyamakan kedudukan. Tembakan keras Perisic dari luar kotak penalti memaksa Julio Cesar bekerja keras menyelamatkan bola. Bola muntah juga gagal dimaksimalkan Brozovic yang tendangannya bisa dihadang David Luiz.

Peluang Kroasia itu ternyata memberikan serangan balik bagi Brasil. Dengan cepat, Oscar menerobos pertahanan Kroasia dan tanpa diduga melepaskan tendangan dari luar kotak penalti. Pletikosa telat bereaksi sehingga harus rela gawangnya bobol untuk ketiga kali dalam laga itu. Pertandingan pun ditutup dengan kemenangan Brasil 3-1.

Menurut FIFA, Brasil unggul penguasaan bola 64 persen berbanding 36 persen milik Kroasia sepanjang pertandingan. Brasil menciptakan 14 peluang, sementara Kroasia hanya melepaskan sembilan peluang.

Susunan pemain

Brasil: 12-Julio Cesar; 2-Dani Alves, 3-Thiago Silva, 4-David Luiz, 6-Marcelo; 8-Paulinho (18-Hernanes 63), 17-Luiz Gustavo; 7-Hulk (20-Bernard 68), 11-Oscar, 10-Neymar (16-Ramires 87); 9-Fred
Pelatih: Luiz Felipe Scolari

Kroasia: 1-Stipe Pletikosa; 2-Sime Vrsaljko, 5-Vedran Corluka, 6-Dejan Lovren, 11-Darijo Srna; 20-Mateo Kovacic (14-Marcelo Brozovic 61), 10-Luka Modric; 4-Ivan Perisic, 7-Ivan Rakitic, 18-Ivica Olic; 9-Nikica Jelavic (16-Ante Rebic 78)
Pelatih: Niko Kovac

Wasit: Yuchi Nishimura (Jepang)

Jika El Nino muncul, suhu udara di bulan Juni dan Juli akan naik dan sangat tak nyaman

Sejak beberapa pekan lalu, Steven Gerrard, Wayne Rooney, Frank Lampard, dan anggota skuat tim Piala Dunia Inggris boyongan ke petirahan tepi pantai Vale do Lobo di Algarve, Portugal. Para “prajurit” St. George Cross ini tentu tak hendak leyeh-leyeh, berjemur menikmati terik matahari.

Roy Hodgson, sang manajer, sengaja membawa anak buahnya ke Vale do Lobo supaya mereka banyak berkeringat. “Ini soal belajar merasa nyaman saat berada dalam kondisi tak nyaman,” kata Hodgson, Kamis dua pekan lalu. Dia juga membawa tim ahli dari Universitas Loughborough untuk memantau perkembangan Gerrard dan kawan-kawan. “Kami mengetes berapa banyak mereka berkeringat, bagaimana pemulihan kebugaran mereka, dan apa yang bisa kami lakukan untuk membantunya.” 

Di hari pertama di Vale do Lobo, tim Inggris hanya melakukan pemanasan ringan. “Perlahan, kami akan terus meningkatkan bebannya.” Hodgson perlu melatih pasukannya di lokasi lebih hangat seperti Vale do Lobo, karena lokasi pertandingan pertama mereka di Piala Dunia Brasil nanti adalah Stadion Arena Amazonia di Kota Manaus, Negara Bagian Amazonas.

Jika El Nino muncul, suhu udara di bulan Juni dan Juli akan naik dan sangat tak nyaman

Menurut ramalan AccuWeather, pada 14 Juni nanti, saat Gerrard dan kawan-kawan melawan tim kelas berat, Italia, temperatur udara di Manaus pada siang hari mencapai 29 derajat Celsius dengan kelembapan 80 persen, sedikit lebih panas dan lembap dari Vale do Lobo, yang rata-rata sekitar 25 derajat Celsius.

Walaupun Vale do Lobo tak persis menyerupai Manaus, kota yang dikepung hutan Amazon, persiapan tim Inggris sangat serius dan lebih scientific. Saat mempersiapkan tim nasional Swiss menjelang Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Hodgson melatih adaptasi mereka menghadapi temperatur udara panas dengan banyak bersauna.

Bukan sekadar lawan-lawan tangguh seperti Italia yang bisa menjegal Inggris di babak penyisihan. Klimatolog dari Universitas Reading, Inggris, Nicholas Klingaman, memperingatkan kemungkinan kedatangan El Nino di Brasil. El Nino bahasa Spanyol, alias bocah laki-laki adalah memanasnya suhu muka laut di sepanjang ekuator Samudra Pasifik bagian tengah timur. Biasanya, jika El Nino datang, Brasil dan sebagian negara-negara Amerika Latin akan menderita. Suhu udara di siang hari amat panas  dan kekeringan panjang. “Jika El Nino muncul, suhu udara di bulan Juni dan Juli akan naik dan sangat tak nyaman,” Klingaman memperingatkan. Seandainya benar ramalan Klingaman, tim Inggris dan jago-jago bola sepak lain dari Eropa bakal tersiksa.

Latihan beberapa pekan di Portugal bisa jadi akan membuat Rooney, Jordan Henderson, dan kawan-kawannya tak terlalu kaget dengan udara panas di Brasil. Suntikan motivasi psikiater kondang Steve Peters barangkali juga bisa menggenjot semangat tempur skuat St. George Cross di lapangan.

Dosen di Universitas Sheffield ini punya segudang pengalaman berurusan dengan olahragawan. Dia pernah menangani bintang snooker Ronnie O’Sullivan dan tim balap sepeda Inggris yang meraih beberapa medali emas dalam Olimpiade. Sejak November 2012, Peters bergabung di Stadion Anfield, markas Liverpool. “Para pemain sangat memperhatikan kata-kata Peters,” kata Hodgson. Tapi tetap saja, secara matematis, Inggris bukan favorit juara di Negeri Samba. Tuan rumah Brasil diramal bakal merebut gelar juara Piala Dunia untuk keenam kalinya. “Brasil terang paling difavoritkan. Sulit untuk mengalahkan tim Samba di sana,” kata John Welch, ekonom Canadian Imperial Bank of Commerce (CIBC). “Tapi, dari cara Felipao bermain, mereka tak akan menang dengan tiga atau empat gol.” Felipao adalah sapaan bagi Luiz Felipe Scolari, manajer tim Samba.

Namanya pertandingan sepak bola, apalagi di antara tim-tim dengan kekuatan hampir setara, hasilnya sangat sulit ditebak. Tapi justru itulah asyiknya sepak bola. Semua orang, bahkan para ekonom yang sehari-hari tak ada urusannya dengan sepak bola, boleh meramal menurut versi dan metodenya masing-masing. Reuters meminta 120 ekonom dan analis keuangan untuk meramal siapa di antara 32 tim yang berlaga di Brasil yang akan memboyong trofi Piala Dunia 2014. Setelah Brasil, tim favorit juara berikutnya versi para ekonom itu adalah Jerman, dinominasikan oleh 18 ekonom; disusul Argentina, difavoritkan 13 analis keuangan; dan Spanyol, juara Piala Dunia 2010, yang hanya dijagokan oleh 8 ekonom.

Hamilton Moreira Alves, analis keuangan Banco do Brasil, meramal peluang tim-tim Eropa merebut trofi Piala Dunia kali ini nyaris tak ada. Nol. Menurut statistik, belum pernah ada tim Eropa yang memenangi Piala Dunia di Amerika Latin. “Tim-tim Eropa juga tak pernah tiga kali berturut-turut memenangi Piala Dunia,” kata Alves. Pada Piala Dunia 2006, Italia menjadi jawara. Empat tahun kemudian giliran tim matador yang mengangkat trofi Piala Dunia. Bagaimana peluang tim Inggris? “Mereka akan pulang dari Brasil tanpa mencetak satu gol pun,” Isaac Matshego, ekonom bank dari Afrika Selatan, Nedbank, memprediksi. Tapi Hodgson dan anak buahnya tak usah berkecil hati dengan prediksi pesimistis para ahli keuangan itu. Jika memakai metode statistik yang dirancang Reuters Breakingviews, tim Inggris berpeluang lolos hingga babak perempat final.

Soccerstend akan mengupas tuntas seputar piala dunia 2014. Ada empat faktor yang jadi pertimbangan, yakni nilai pasar seluruh anggota tim, peringkat FIFA, besarnya dukungan suporter, dan populasi penduduk. Menurut Reuters Breakingviews, dengan bobot lebih besar pada nilai pasar pemain dan ranking FIFA, tim Jerman akan menjadi juara dengan mengalahkan Spanyol di babak final. Tuan rumah hanya akan mendapat jatah juara ketiga setelah mengalahkan Argentina.

Tapi, sekali lagi, itu hanyalah ramalan di atas kertas. Perhitungan di lapangan bisa jauh berbeda. Empat tahun lalu, perusahaan raksasa keuangan Goldman Sachs menerbitkan ramalan Piala Dunia 2010 sepanjang 75 halaman. Para analis ekonomi dan keuangan Goldman dari pelbagai negara menganalisis kekuatan 32 tim yang bertanding di Afrika Selatan. Dengan analisis yang lumayan canggih, menurut perhitungan jago-jago ekonomi Goldman, Brasil-lah (calon) juaranya, disusul Spanyol, Jerman, Inggris, Argentina, Italia, dan Prancis. Kenyataannya, Spanyol-lah yang pulang membawa gelar. Sedangkan Brasil tersungkur di perempat final. Justru Uruguay, yang tak jadi tim favorit versi Goldman, malah lolos hingga babak empat besar. Sumber:majalahdetik.


Berita Ekonomi dan Bisnis

Investasi Online

Seputar Maskapai Penerbangan

Kelapa Sawit